Coba-coba aja sebenarnya ini. Coba-coba bikin novel drama kehidupan :)
Karena ini novel bergenre drama yang pertama kubuat, aku mohon dengan sangat tolong berikan pendapatmu tentang preview novel ini yaaa :) :D
*Novel Enam Simbol masih tetap rilis kok. Hehehehe
============================================================================
Judul: Tahta
Penulis: Eni Hariani
Genre: Drama kehidupan, Romance
Kategori pembaca: BO (Bimbingan Orangtua)
Sinopsis:
Karena ini novel bergenre drama yang pertama kubuat, aku mohon dengan sangat tolong berikan pendapatmu tentang preview novel ini yaaa :) :D
*Novel Enam Simbol masih tetap rilis kok. Hehehehe
============================================================================
Judul: Tahta
Penulis: Eni Hariani
Genre: Drama kehidupan, Romance
Kategori pembaca: BO (Bimbingan Orangtua)
Sinopsis:
Ketika sebuah kesalahan besar disembunyikan yang bisa saja terungkap suatu hari nanti.
Ketika tiga bersaudara diuji dengan sebuah tahta. Salah satu dari mereka berusaha tidak terlibat malah menjadikan dirinya terpilih. Membuat saudaranya sakit hati dan menumbuhkan perasaan dendam.
Ketika keputusan yang dianggap benar diambil malah menimbulkan kehancuran.
Ketika tali persaudaraan diuji ketahanannya.
Ketika lidah bersilat dan harga diri dipertaruhkan.
Ini merupakan sebuah kisah lika-liku kehidupan sebuah keluarga yang terpecah hanya karena siapa yang akan berhak mendapatkan "mahkota dan tahta" dan menimbulkan perseteruan antarsaudara sendiri yang berlanjut ke keturunan mereka masing-masing.
===========================================================================
BAB 1
Resta mengendarai mobilnya
dengan hati gembira karena adiknya satu jam yang lalu melahirkan. Setelah
melewati jalan yang berpuncak dan berbelok, akhirnya Resta sampai di sebuah
vila bertingkat. Resta memasuki vila tersebut dan segera menuju kamar adiknya
di lantai dua.
Dengan hati riang bukan
kepalang Resta membuka pintu kamar adiknya sembari memanggil nama adiknya.
Namun ternyata adiknya tidak ada di kamar itu. Resta kemudian merasakan angin
cukup kencang berhembus menerpa kulitnya.
Resta pun menoleh dan
mendapati jendela kamar terbuka dengan kain panjang disimpul-simpul menjulur
dari lantai dua ke tanah. Resta merasa ada yang tidak beres. Lalu ia keluar
kamar dan meminta semua penjaga berkumpul di ruang keluarga.
"Adikku berhasil
melarikan diri bersama pembantunya. Kalian buatlah beberapa kelompok kecil.
Cari adikku ke semua tempat sekitar daerah ini. Oh ya, danau yang tak jauh dari
sini juga ditelusuri. Aku yakin dia belum jauh."
"Baik, nona Resta.
Percayakan pada kami. Kami akan membawa pulang nona Amalia."
Resta mengangguk.
Para penjaga pribadi pun
segera berpencar ke seluruh tempat. Resta kembali ke kamar adiknya mencari
petunjuk. Lalu ia menemukan secarik kertas di atas kasur. Resta mengambil
kertas itu dan membaca isinya.
Kak
Restaku sayang, maafkan adikmu ini. Aku harus membuatmu kecewa untuk kedua
kalinya. Tapi aku harus melakukan hal ini untuk kebaikan keluarga kita. Kumohon
kak Resta bisa mengerti.
Salam
cinta
Amalia
Resta meremas surat itu
dengan gigi yang menggeretak.
"Aku akan membuatmu
menyesal telah membuat adik kesayanganku menderita," ucap
Resta geram. Ia lalu membuang surat itu ke tong sampah.
Tak lama kemudian sebuah
taksi kota datang ke vila bertingkat itu. Amalia sangat berdebar saat tadi
melihat mobil jazz hitam milik kakaknya. Dengan perasaan takut, Amalia memasuki
kamarnya.
"Kak Resta...,"
ujar Amalia agak takut.
Resta memalingkan wajahnya
menatap wajah Amalia yang sembab dan agak pucat. Resta berjalan mendekati
adiknya. Tangan kanan Resta mencoba membelai pipi kanan adiknya namun Amalia
dengan segera menghindar. Resta kemudian berbalik dan berjalan ke arah jendela
kaca besar.
"Kak Resta,"
panggil Amalia. "Aku...aku minta maaf. Aku telah...-"
"Kau bawa kemana
bayimu?" tanya Resta tanpa basa-basi.
"Kutitipkan ke sebuah
panti asuhan."
"Kenapa kau melakukan
hal itu?"
"Ini demi kebaikan
keluarga kita. Aku tak mau membuat keluarga kita hancur hanya karena perbuatan
hinaku."
"Kau sudah membuat
keluarga ini menangis, adikku."
Air mata Amalia mulai jatuh
dari wadahnya.
"Maafkan aku. Maafkan
akuuu...u...."
Resta menyeka air matanya
dan berbalik menghampiri adiknya yang mulai menangis tersedu-sedu.
"Aku sungguh tak bisa
dimaafkan, kak.... Aku sudah menodai keluarga ini. Aku sudah membuat dosa besar
yang tak pernah bisa dimaafkan oleh siapa pun."
"Jangan berkata begitu,
adikku. Ayah dan ibu sudah menerima keadaanmu dan memaafkan kesalahanmu."
"Ayah dan ibu mungkin
sudah memaafkan dan menerima kesalahanku. Tapi tidak pada masyarakat dan suami
sahku nanti."
Resta diam.
"Aku sudah
memutuskannya. Aku takkan pernah menikah sampai akhir hayatku. Biarlah dosa ini
aku saja yang menanggunggnya. Aku tak mau melibatkan siapapun lagi. Aku tak mau
melihat orang menderita karena diriku. Tidak. Aku tidak mau."
"Kau akan tetap
menikah."
"Tidak! Aku sudah
bersumpah tidak akan pernah menikah!" ucap Amalia dengan nada tinggi
dan tangan kirinya yang terangkat memberikan gesture ‘tidak’ pada kakaknya.
"Kau akan tetap menikah
dan memulai hidupmu di lembaran baru! Aku akan mencarikanmu laki-laki yang akan
menerima kekurangan dan kelebihanmu serta yang mencintai dirimu
seutuhnya!" ujar Resta dengan suara nyaring.
"Kak Resta. Kenapa kau-"
"Meskipun kau melarikan
diri!
Meskipun kau bersembunyi! Aku akan menarikmu dari masa lalumu yang kelam! Aku
akan memaksamu menjalani kehidupan yang baru! Aku akan melakukan apapun untuk
membuatmu bahagia!" ujar Resta sembari menahan air matanya.
"Kak Resta...."
"Siapa yang tidak akan
menangis melihat salah satu anggota keluarganya bersedih? Kakak mana yang akan
membiarkan adiknya bersedih?"-air mata Resta
mulai jatuh-"Jawabannya,
tidak seorang pun. Meskipun seorang kakak itu jahat, dia akan tetap melindungi
adiknya."
"Kak Resta...maafkan
aku. Maafkan aku! Maafkan aku!" isak Amalia.
Resta memeluk tubuh adiknya.
"Tak perlu minta maaf. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah terus
melanjutkan hidup dan lupakan masa lalu."
Amalia menganggukkan
kepalanya.
***
"Aku mengerti. Duduk
yang nyaman dan tunggulah. Tak lama lagi aku akan dihadapanmu, nenekku saying," ucap
seorang pemuda lewat ponselnya, tersenyum.
Alunan musik pengiring
kedatangan sang pengantin mulai terdengar. Fatur dan neneknya menyingkir ke
samping karpet merah. Para anak-anak yang menjadi penggiring berjalan rapi
mengelilingi sang pengantin dengan sebuket bunga melati yang indah. Semua tamu
undangan bertepuk tangan dan bersorak ria. Sang pengantin wanita tersenyum
bahagia dan menebarkannya ke semua tamu undangan.
"Saya nikahkan Muhammad
Fadhil bin almarhum Ahmad Bilal dan Ayu Puspita Ningsih binti Agraha dengan
mahar cincin emas 8 gram dan kalung emas 12 gram di bayar tunai," ucap pak
penghulu.
"Saya, Muhammad Fadhil
bin almarhum Ahmad Bilal menerima Ayu Puspita Ningsih binti Agraha sebagai
istri saya serta cincin emas 8 gram dan kalung emas 12 gram sebagai mahar
dibayar tunai."
"Bagaimana para tamu
undangan? Apakah pernikahan ini sah?"
"Saaah!!!"
"Alhamdulillah. Mulai
hari ini nak Fadhil dan nak Ayu adalah sepasang suami istri. Semoga kehidupan
rumah tangga kalian langgeng sampai akhir hayat kalian. Amiiin."
"Amiiin," ucap
seluruh anggota keluarga dari kedua belah pihak.
Kemudian alunan musik karaoke
pun mulai terdengar. Para tamu yang suka berkaraoke mulai menunjukkan suara
merdu mereka melalui lagu-lagu yang mereka dendangkan dan ada pula beberapa tamu
yang berjoget ria mengikuti alunan musik.
Ny. Anggi tampak gelisah.
Berulang kali kedua matanya melihat ke arah pintu masuk. Nampaknya beliau
sedang menunggu seseorang yang sangat spesial.
"Dia belum sampai
juga?" tanya Tuan Pujianto.
"Mungkin terjebak macet,"
respon Ny. Anggi asal.
"Lho? Dia nggak pake
helikopter kita?"
"Nggak tahu, Pak. Dia
gak bilang naik apa ke sini."
"Dasar anak itu. Dia
selalu saja buat kejutan."
"Bisa jadi."
Para tamu undangan satu demi
satu datang menghadiri undangan resepsi pernikahan Fadhil dan Ayu satu jam
setelah akad nikahnya. Mereka pun menikmati semua hidangan yang disediakan.
Setelah makan dan minum, mereka satu per satu masuk menemui sang pengantin,
bersalaman dengan orang tua kedua mempelai pengantin, lalu bersalaman
dengan sang pengantin. Ada beberapa tamu yang memberikan mereka kado
pernikahan. Di antara para tamu undangan juga ada yang berfoto bersama dengan
sang pengantin dan orang tua kedua mempelai.
Satu jam kemudian sebuah
helikopter mendarat dengan mulus di sebuah halaman rumah yang sangat luas. Seorang
pemuda keluar dari helikopter itu. Angin hembusan yang disebabkan oleh
baling-baling helikopter membuat rambut hitamnya bergoyang mengikuti arah
angin.
Ny. Anggi berdiri dari
duduknya lalu berjalan menuju ke pintu aula rumah yang dijadikan acara resepsi
pernikahan. Di saat yang sama, seorang pemuda berlari kencang dengan sebuah tas
jinjing di tangan kanannya menuju pintu rumahnya yang sangat megah, besar, dan
bertingkat.
Ny. Anggi membuka pintu aula
dengan wajah berseri-seri namun di sana tak ada siapa-siapa. Raut wajah bahagia
Ny. Anggi berubah menjadi sedih. Ia menutup kembali pintu aula dan berjalan ke
kursinya lagi. Tak lama kemudian pintu aula dibuka dengan keras membuat semua
orang terkejut dan memandang ke arahnya.
"Maaf. Aku terlambat,"
ucap seorang pemuda tampan dengan napas yang sedikit tersengal-sengal.
Ny. Anggi tersenyum bahagia
saking bahagianya ia ingin menitikkan air mata. Ia lalu berjalan cepat ke
arah cucunya yang juga berlari kecil ke arahnya. Keduanya menghentikan langkah dengan
wajah penuh kehabagiaan.
"Assalamu'alaikum, Nek,"
ucap Fatur sambil mencium punggung tangan kanan neneknya.
"Wa'alaikumsalam, Fatur," jawab Ny.
Anggi mengelus kepala Fatur.
Fatur mengangkat wajahnya
dan menampilkan senyumnya yang menawan. Nyonya Anggi tersenyum sambil mengelus pipi
kanan cucunya.
"Tak kusangka kau sudah
dewasa, cucuku."
Fatur tersenyum lagi.
"Kau sudah pulang,
adikku."
"Assalamu'alaikum, mas Fadhil,"
ucap Fatur sembari mencium punggung tangan kanan kakaknya.
Fadhil memeluk tubuh adiknya
dan tak sengaja air mata bahagianya keluar. Hasan juga datang lalu mencium punggung
tangan kanan Fatur dan setelah itu memeluknya.
"Sudah lama tak bertemu,
kau mengalami beberapa perubahan," ujar Fatur sembari memegang pundak kiri
Hasan.
"Ya. Aku mengikuti
saranmu untuk mengatur pola makanku agar berat badanku tidak naik."
Fatur tertawa. "Kau
benar-benar melakukannya padahal waktu itu aku hanya bercanda."
"Apa?! Jadi waktu itu
kakak membohongiku?"
Fatur dan Fadhil tertawa.
"Tapi ada baiknya kau berbohong,
Fatur. Hasan jadi lebih memperhatikan makanannya," ujar Ny. Anggi.
Fatur tersenyum dalam
tawa bahagianya.
"Fatur, kenalkan ini istriku,Ayu,"
ucap Fadhil.
"Assamu'alaikum, mbak
Ayu, " ucap Fatur dengan ramah.
"Wa'alaikumsalam," balas
Ayu dengan agak berat hati.
"Istrimu sangat cantik,
mas Fadhil," puji Fatur.
"Terima kasih,"
ucap Fadil tersipu senang.
“Ayo mari kita nikmati
acara pernikahan Fadhil sampai selesai,” ucap tuan Pujianto.
“Iya, kakek,” ucap
ketiga bersaudara itu.
***
Ayu berjalan keluar dari rumah keluarga Pujianto yang tadi dijadikan
tempat acara resepsi pernikahannya dengan Fadhil. Dengan baju kebaya hijau dan
rok jadi yang terbuat dari kain batik sido mukti, Ayu berjalan mencari Fatur.
Saat ia berada di area halaman belakang rumah, ia melihat Fatur sedang bersantai
di sebuah kursi santai yang biasa dipakai di pantai dengan earphone menggantung di kedua telinganya. Ayu pun menghampiri Fatur.
Ayu menggoyang pundak kiri Fatur. Sontak, Fatur melepas earphonenya.
"Oh. Mbak Ayu. Ada apa, mbak?"
"Jangan bersikap layaknya kau adikku."
"Lho? Bukannya mulai hari ini saya adalah adikmu?"
Ayu menarik napas dengan menatap tajam ke arah Fatur.
"Aku tidak sudi menjadikanmu adikku apalagi hanya menganggapmu
sebagai adikku!"
"Memangnya kenapa, mbak?"
"Cintaku itu hanya untukmu seorang, bukan untuk laki-laki buta
yang bernama Fadhil itu!"
"Astaghfirullah, mbak. Tidak baik menjelekkan orang lain."
"Aku tidak peduli! Pernikahan ini hanya semata-mata untuk bisnis
bukan untuk cinta sejati."
"Saat seorang anak bermain layang-layang, lalu layangannya putus dan
terbang ditiup oleh angin kencang. Maka anak itu akan berlari berusaha
menangkap layangan itu agar teman-temannya tidak merebut layangannya. Tapi, karena
anak itu tak berhati-hati, ia tak melihat bahwa dirinya berada di tengah jalan raya.
Karena kecerobohan dan ketamakkannya membuat dirinya celaka. Anak itu
tersungkur ke aspal dengan darah yang keluar dari dalam tubuhnya melalui luka-lukanya
karena tertabrak alat transportasi darat. Begitu juga dirimu, mbak. Karena
ketamakkanmu, kau bisa celaka suatu hari. Aku mohon, terimalah mas Fadhil
sebagai suami dan cinta sejatimu. Jadilah mata bagi mas Fadhil agar ia bisa
merasakan indahnya dunia ini. Jadilah bidadari agar mas Fadhil bisa merasakan
betapa sejuk dan tentramnya surga. Dan ubahlah rasa sukamu padaku sebagai cinta
dan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya."
"Aku tak bisa."
"Kenapa?"
"Rasa sukaku padamu yang sudah bersemayam di dalam jiwaku dan mengubahnya
menjadi cinta, takkan bisa diubah menjadi cinta yang kau minta itu."
"Itu bisa diubah secara perlahan. Buktinya diriku. Aku bisa
mengubah rasa tertarikku kepadamu hanya sebagai kakak bukan sebagai wanita yang
akan menjadi pendamping hidupku."
Ayu melipat kedua tangannya di dada. Ia mendengus kesal. Fatur kemudian
berjalan menjauhi Ayu.
"Apa kau sudah mempunyai wanita lain dalam hatimu sehingga kau
melupakan ucapan manismu padaku?"
"Maaf, mbak. Saya mohon. Mbak jangan ganggu hidup saya
lagi. Mbak itu istri mas Fadhil. Haram bagi mbak menginginkan saya 'tuk jadi suami
mbak," ujar Fatur kembali ke bahasa formal.
"Alaaah. Tak usah sok sopan. Aku tahu kamu itu masih cinta 'kan
sama aku?"
"Sudah saya bilang berulang kali. Saya itu menjadikan mbak kenalan
saya hanya untuk menjadi istri mas Fadhil. Seperti yang mbak tahu, mas Fadhil
buta karena sewaktu kecelakaan 15 tahun yang lalu hanya untuk melindungi saya dan
Hasan. Ini merupakan balas budi dari saya untuk mas Fadhil."
"Tapi waktu itu kau menyatakan cinta padaku."
"Itu hanya agar mbak menerima saya."
"Oooh. Jadi semua itu bohong?"
Fatur bungkam. Ia sedikit menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku akan bersumpah! Aku akan membuat hidupmu dan
keturunanmu dalam kesengsaraan yang amat luar biasa sampai rasa sakit hatiku terobati!"
ujar Ayu lantang.
"Astaghfirullah. Istighfar, mbak. Istighfar."
Ayu memalingkan wajahnya. Fatur menghela napas panjang.
"Ketika sebuah api yang berkobar besar takkan mudah dipadamkan sekalipun
dengan air. Ia akan berkobar dengan ganas membakar sekitarnya hingga tak ada
lagi yang bisa dibakarnya. Api bisa padam dengan sendirinya hanya bila tak ada
lagi yang bisa dibakar olehnya namun api amarah yang dicampur dengan rasa
benci yang dalam takkan bisa dipadamkan meskipun dengan kata-kata yang lembut. Aku,
sebagai adik iparmu, berdoa kepada Allah dan berharap padamu, mbak, untuk segera
memadamkan api amarahmu sehingga api itu tak membakarmu suatu hari nanti."
Ayu mendengus marah dan segera meninggalkan Fatur. Fatur kemudian
duduk
kembali di kursi santainya lalu menopang keningnya dengan kedua tangan dan
menghembuskan napas panjang.
***
Fatur masuk ke dalam kamar Fadhil. Fatur mengambil baju piyama kakaknya
dan meminta para pembantu untuk keluar kamar. Fatur kemudian memasangkan baju
itu ke badan Fadhil.
"Dari cara memasangnya, aku sudah bisa menebak."
Fatur tersenyum.
"Ada apa kau datang kemari adikku?"
"Apalagi kalau bukan ingin melihat wajah kakakku yang sedang
bahagia ini."
Fadhil tertawa kecil.
"Fatur, aku sangat berterima kasih padamu. Kau telah membawakanku wanita
terbaik yang pernah kutemui. Aku bahagia sekali." Fadhil
menggenggam kedua tangan Fatur penuh kebahagiaan.
"Alhamdulillah bila mas Fadhil menerima dengan baik mbak Ayu
sebagai istrimu."
Fadhil tersenyum bahagia.
"Fatur, apakah kau kini sudah punya seorang wanita yang bisa kau
jadikan istrimu kelak?"
"Jangankan menjadikannya istri, mencari pun aku tak sempat, mas. Aku
terlalu fokus dengan perkualiahanku."
"Kalau begitu ini sungguh kebetulan."
"Kebetulan yang bagaimana, mas?" tanya Fatur bingung.
"Aku pernah mendengar dari teman-temanku bahwa tuan Anggito
mempunyai dua putri yang sangat cantik dan cerdas. Putri sulungnya sudah menikah
dengan pria penerus perusahaan tambang sedangkan putri bungsunya hingga kini
belum juga menikah. Aku rasa, kau dan gadis itu sangat cocok."
"Kalau pernikahan ini dikarenakan ikatan bisnis, aku rasa
perusahaan olahan kayu milik tuan Anggito membawa keuntungan kecil untuk
perusahaan kapal besar milik kita."
"Tapi aku ingin pernikahanmu dilandaskan oleh cinta dan kasih sayang,
adikku. Pernikahan yang dilandaskan cinta dan kasih sayang akan membuat hidupmu
dan keluarga kecilmu bahagia dan diberkahi kenikmatan oleh Allah SWT. Kalau
dilihat, memang tak terlalu membuat perusahaan kita kaya, tapi dengan cinta dan
kasih sayang, kau bisa membuat dua perusahaan ini menjadi satu kesatuan yang saling
mengisi kekurangannya masing-masing."
Fatur diam, meresapi ucapan Fadhil.
"Baiklah, mas. Aku akan coba mendekati gadis itu dan membuatnya
merasa nyaman denganku."
"Selain itu ada yang ingin kuberitahukan lagi.”-Fadhil
memegang pundak kanan Fatur dan tangan kirinya mengacungkan jari telunjuknya-“Gadis itu, Amalia
Sinta, mempunyai hati sekuat baja. Tak mudah untuk menerobos pertahanannya. Jadi
kau harus berhati-hati dalam merebut hatinya. Karena, baja takkan bisa dipatahkan
dengan sekali tebas, tapi bila kau sayat sedikit demi sedikit maka baja itu
akan bisa dipatahkan," ucap Fadhil sembari memperagakan apa yang ia
bicarakan.
"Aku mengerti, mas. Terima kasih atas saran dan nasehatmu. Aku
sangat terbantu."
"Seorang kakak memang seharusnya memberi jalan untuk adik-adiknya
agar adik-adiknya tidak tersesat." Fadhil menepuk pundak kanan
Fatur
Fatur mengangguk. “Ya.”

Mohon kritik dan sarannya ^_^
ReplyDeleteceroita baru
ReplyDeleteyg lama gimana