Saturday, November 29, 2014

Preview novel "Tahta"

Coba-coba aja sebenarnya ini. Coba-coba bikin novel drama kehidupan :)
Karena ini novel bergenre drama yang pertama kubuat, aku mohon dengan sangat tolong berikan pendapatmu tentang preview novel ini yaaa :) :D

*Novel Enam Simbol masih tetap rilis kok. Hehehehe
============================================================================


Judul: Tahta
Penulis: Eni Hariani
Genre: Drama kehidupan, Romance
Kategori pembaca: BO (Bimbingan Orangtua)
Sinopsis:


Ketika sebuah kesalahan besar disembunyikan yang bisa saja terungkap suatu hari nanti.
Ketika tiga bersaudara diuji dengan sebuah tahta. Salah satu dari mereka berusaha tidak terlibat malah menjadikan dirinya terpilih. Membuat saudaranya sakit hati dan menumbuhkan perasaan dendam. 
Ketika keputusan yang dianggap benar diambil malah menimbulkan kehancuran. 
Ketika tali persaudaraan diuji ketahanannya. 
Ketika lidah bersilat dan harga diri dipertaruhkan.

Ini merupakan sebuah kisah lika-liku kehidupan sebuah keluarga yang terpecah hanya karena siapa yang akan berhak mendapatkan "mahkota dan tahta" dan menimbulkan perseteruan antarsaudara sendiri yang berlanjut ke keturunan mereka masing-masing.
===========================================================================




BAB 1


Resta mengendarai mobilnya dengan hati gembira karena adiknya satu jam yang lalu melahirkan. Setelah melewati jalan yang berpuncak dan berbelok, akhirnya Resta sampai di sebuah vila bertingkat. Resta memasuki vila tersebut dan segera menuju kamar adiknya di lantai dua.

Dengan hati riang bukan kepalang Resta membuka pintu kamar adiknya sembari memanggil nama adiknya. Namun ternyata adiknya tidak ada di kamar itu. Resta kemudian merasakan angin cukup kencang berhembus menerpa kulitnya.

Resta pun menoleh dan mendapati jendela kamar terbuka dengan kain panjang disimpul-simpul menjulur dari lantai dua ke tanah. Resta merasa ada yang tidak beres. Lalu ia keluar kamar dan meminta semua penjaga berkumpul di ruang keluarga.

"Adikku berhasil melarikan diri bersama pembantunya. Kalian buatlah beberapa kelompok kecil. Cari adikku ke semua tempat sekitar daerah ini. Oh ya, danau yang tak jauh dari sini juga ditelusuri. Aku yakin dia belum jauh."

"Baik, nona Resta. Percayakan pada kami. Kami akan membawa pulang nona Amalia."

Resta mengangguk.

Para penjaga pribadi pun segera berpencar ke seluruh tempat. Resta kembali ke kamar adiknya mencari petunjuk. Lalu ia menemukan secarik kertas di atas kasur. Resta mengambil kertas itu dan membaca isinya.

Kak Restaku sayang, maafkan adikmu ini. Aku harus membuatmu kecewa untuk kedua kalinya. Tapi aku harus melakukan hal ini untuk kebaikan keluarga kita. Kumohon kak Resta bisa mengerti.


Salam cinta
Amalia


Resta meremas surat itu dengan gigi yang menggeretak.
"Aku akan membuatmu menyesal telah membuat adik kesayanganku menderita," ucap Resta geram. Ia lalu membuang surat itu ke tong sampah.

Tak lama kemudian sebuah taksi kota datang ke vila bertingkat itu. Amalia sangat berdebar saat tadi melihat mobil jazz hitam milik kakaknya. Dengan perasaan takut, Amalia memasuki kamarnya.

"Kak Resta...," ujar Amalia agak takut.

Resta memalingkan wajahnya menatap wajah Amalia yang sembab dan agak pucat. Resta berjalan mendekati adiknya. Tangan kanan Resta mencoba membelai pipi kanan adiknya namun Amalia dengan segera menghindar. Resta kemudian berbalik dan berjalan ke arah jendela kaca besar.

"Kak Resta," panggil Amalia. "Aku...aku minta maaf. Aku telah...-"

"Kau bawa kemana bayimu?" tanya Resta tanpa basa-basi.

"Kutitipkan ke sebuah panti asuhan."

"Kenapa kau melakukan hal itu?"

"Ini demi kebaikan keluarga kita. Aku tak mau membuat keluarga kita hancur hanya karena perbuatan hinaku."

"Kau sudah membuat keluarga ini menangis, adikku."

Air mata Amalia mulai jatuh dari wadahnya.

"Maafkan aku. Maafkan akuuu...u...."

Resta menyeka air matanya dan berbalik menghampiri adiknya yang mulai menangis tersedu-sedu.

"Aku sungguh tak bisa dimaafkan, kak.... Aku sudah menodai keluarga ini. Aku sudah membuat dosa besar yang tak pernah bisa dimaafkan oleh siapa pun."

"Jangan berkata begitu, adikku. Ayah dan ibu sudah menerima keadaanmu dan memaafkan kesalahanmu."

"Ayah dan ibu mungkin sudah memaafkan dan menerima kesalahanku. Tapi tidak pada masyarakat dan suami sahku nanti."

Resta diam.

"Aku sudah memutuskannya. Aku takkan pernah menikah sampai akhir hayatku. Biarlah dosa ini aku saja yang menanggunggnya. Aku tak mau melibatkan siapapun lagi. Aku tak mau melihat orang menderita karena diriku. Tidak. Aku tidak mau."

"Kau akan tetap menikah."

"Tidak! Aku sudah bersumpah tidak akan pernah menikah!" ucap Amalia dengan nada tinggi dan tangan kirinya yang terangkat memberikan gesture ‘tidak’ pada kakaknya.

"Kau akan tetap menikah dan memulai hidupmu di lembaran baru! Aku akan mencarikanmu laki-laki yang akan menerima kekurangan dan kelebihanmu serta yang mencintai dirimu seutuhnya!" ujar Resta dengan suara nyaring.

"Kak Resta. Kenapa kau-"

"Meskipun kau melarikan diri! Meskipun kau bersembunyi! Aku akan menarikmu dari masa lalumu yang kelam! Aku akan memaksamu menjalani kehidupan yang baru! Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia!" ujar Resta sembari menahan air matanya.

"Kak Resta...."

"Siapa yang tidak akan menangis melihat salah satu anggota keluarganya bersedih? Kakak mana yang akan membiarkan adiknya bersedih?"-air mata Resta mulai jatuh-"Jawabannya, tidak seorang pun. Meskipun seorang kakak itu jahat, dia akan tetap melindungi adiknya."

"Kak Resta...maafkan aku. Maafkan aku! Maafkan aku!" isak Amalia.

Resta memeluk tubuh adiknya. "Tak perlu minta maaf. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah terus melanjutkan hidup dan lupakan masa lalu."

Amalia menganggukkan kepalanya.

***

"Aku mengerti. Duduk yang nyaman dan tunggulah. Tak lama lagi aku akan dihadapanmu, nenekku saying," ucap seorang pemuda lewat ponselnya, tersenyum.

Alunan musik pengiring kedatangan sang pengantin mulai terdengar. Fatur dan neneknya menyingkir ke samping karpet merah. Para anak-anak yang menjadi penggiring berjalan rapi mengelilingi sang pengantin dengan sebuket bunga melati yang indah. Semua tamu undangan bertepuk tangan dan bersorak ria. Sang pengantin wanita tersenyum bahagia dan menebarkannya ke semua tamu undangan.

"Saya nikahkan Muhammad Fadhil bin almarhum Ahmad Bilal dan Ayu Puspita Ningsih binti Agraha dengan mahar cincin emas 8 gram dan kalung emas 12 gram di bayar tunai," ucap pak penghulu.

"Saya, Muhammad Fadhil bin almarhum Ahmad Bilal menerima Ayu Puspita Ningsih binti Agraha sebagai istri saya serta cincin emas 8 gram dan kalung emas 12 gram sebagai mahar dibayar tunai."

"Bagaimana para tamu undangan? Apakah pernikahan ini sah?"

"Saaah!!!"

"Alhamdulillah. Mulai hari ini nak Fadhil dan nak Ayu adalah sepasang suami istri. Semoga kehidupan rumah tangga kalian langgeng sampai akhir hayat kalian. Amiiin."

"Amiiin," ucap seluruh anggota keluarga dari kedua belah pihak.

Kemudian alunan musik karaoke pun mulai terdengar. Para tamu yang suka berkaraoke mulai menunjukkan suara merdu mereka melalui lagu-lagu yang mereka dendangkan dan ada pula beberapa tamu yang berjoget ria mengikuti alunan musik.

Ny. Anggi tampak gelisah. Berulang kali kedua matanya melihat ke arah pintu masuk. Nampaknya beliau sedang menunggu seseorang yang sangat spesial.

"Dia belum sampai juga?" tanya Tuan Pujianto.

"Mungkin terjebak macet," respon Ny. Anggi asal.

"Lho? Dia nggak pake helikopter kita?"

"Nggak tahu, Pak. Dia gak bilang naik apa ke sini."

"Dasar anak itu. Dia selalu saja buat kejutan."

"Bisa jadi."

Para tamu undangan satu demi satu datang menghadiri undangan resepsi pernikahan Fadhil dan Ayu satu jam setelah akad nikahnya. Mereka pun menikmati semua hidangan yang disediakan. Setelah makan dan minum, mereka satu per satu masuk menemui sang pengantin, bersalaman dengan orang tua kedua mempelai pengantin, lalu bersalaman dengan sang pengantin. Ada beberapa tamu yang memberikan mereka kado pernikahan. Di antara para tamu undangan juga ada yang berfoto bersama dengan sang pengantin dan orang tua kedua mempelai.

Satu jam kemudian sebuah helikopter mendarat dengan mulus di sebuah halaman rumah yang sangat luas. Seorang pemuda keluar dari helikopter itu. Angin hembusan yang disebabkan oleh baling-baling helikopter membuat rambut hitamnya bergoyang mengikuti arah angin.

Ny. Anggi berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ke pintu aula rumah yang dijadikan acara resepsi pernikahan. Di saat yang sama, seorang pemuda berlari kencang dengan sebuah tas jinjing di tangan kanannya menuju pintu rumahnya yang sangat megah, besar, dan bertingkat.

Ny. Anggi membuka pintu aula dengan wajah berseri-seri namun di sana tak ada siapa-siapa. Raut wajah bahagia Ny. Anggi berubah menjadi sedih. Ia menutup kembali pintu aula dan berjalan ke kursinya lagi. Tak lama kemudian pintu aula dibuka dengan keras membuat semua orang terkejut dan memandang ke arahnya.

"Maaf. Aku terlambat," ucap seorang pemuda tampan dengan napas yang sedikit tersengal-sengal.

Ny. Anggi tersenyum bahagia saking bahagianya ia ingin menitikkan air mata. Ia lalu berjalan cepat ke arah cucunya yang juga berlari kecil ke arahnya. Keduanya menghentikan langkah dengan wajah penuh kehabagiaan.

"Assalamu'alaikum, Nek," ucap Fatur sambil mencium punggung tangan kanan neneknya.

"Wa'alaikumsalam, Fatur," jawab Ny. Anggi mengelus kepala Fatur.

Fatur mengangkat wajahnya dan menampilkan senyumnya yang menawan. Nyonya Anggi tersenyum sambil mengelus pipi kanan cucunya.

"Tak kusangka kau sudah dewasa, cucuku."

Fatur tersenyum lagi.

"Kau sudah pulang, adikku."

"Assalamu'alaikum, mas Fadhil," ucap Fatur sembari mencium punggung tangan kanan kakaknya.

Fadhil memeluk tubuh adiknya dan tak sengaja air mata bahagianya keluar. Hasan juga datang lalu mencium punggung tangan kanan Fatur dan setelah itu memeluknya.

"Sudah lama tak bertemu, kau mengalami beberapa perubahan," ujar Fatur sembari memegang pundak kiri Hasan.

"Ya. Aku mengikuti saranmu untuk mengatur pola makanku agar berat badanku tidak naik."

Fatur tertawa. "Kau benar-benar melakukannya padahal waktu itu aku hanya bercanda."

"Apa?! Jadi waktu itu kakak membohongiku?"

Fatur dan Fadhil tertawa.

"Tapi ada baiknya kau berbohong, Fatur. Hasan jadi lebih memperhatikan makanannya," ujar Ny. Anggi.

Fatur tersenyum dalam tawa bahagianya.

"Fatur, kenalkan ini istriku,Ayu," ucap Fadhil.

"Assamu'alaikum, mbak Ayu, " ucap Fatur dengan ramah.

"Wa'alaikumsalam," balas Ayu dengan agak berat hati.

"Istrimu sangat cantik, mas Fadhil," puji Fatur.

"Terima kasih," ucap Fadil tersipu senang.

“Ayo mari kita nikmati acara pernikahan Fadhil sampai selesai,” ucap tuan Pujianto.

“Iya, kakek,” ucap ketiga bersaudara itu.

***

Ayu berjalan keluar dari rumah keluarga Pujianto yang tadi dijadikan tempat acara resepsi pernikahannya dengan Fadhil. Dengan baju kebaya hijau dan rok jadi yang terbuat dari kain batik sido mukti, Ayu berjalan mencari Fatur. Saat ia berada di area halaman belakang rumah, ia melihat Fatur sedang bersantai di sebuah kursi santai yang biasa dipakai di pantai dengan earphone menggantung di kedua telinganya. Ayu pun menghampiri Fatur.

Ayu menggoyang pundak kiri Fatur. Sontak, Fatur melepas earphonenya.

"Oh. Mbak Ayu. Ada apa, mbak?"

"Jangan bersikap layaknya kau adikku."

"Lho? Bukannya mulai hari ini saya adalah adikmu?"

Ayu menarik napas dengan menatap tajam ke arah Fatur.

"Aku tidak sudi menjadikanmu adikku apalagi hanya menganggapmu sebagai adikku!"

"Memangnya kenapa, mbak?"

"Cintaku itu hanya untukmu seorang, bukan untuk laki-laki buta yang bernama Fadhil itu!"

"Astaghfirullah, mbak. Tidak baik menjelekkan orang lain."

"Aku tidak peduli! Pernikahan ini hanya semata-mata untuk bisnis bukan untuk cinta sejati."

"Saat seorang anak bermain layang-layang, lalu layangannya putus dan terbang ditiup oleh angin kencang. Maka anak itu akan berlari berusaha menangkap layangan itu agar teman-temannya tidak merebut layangannya. Tapi, karena anak itu tak berhati-hati, ia tak melihat bahwa dirinya berada di tengah jalan raya. Karena kecerobohan dan ketamakkannya membuat dirinya celaka. Anak itu tersungkur ke aspal dengan darah yang keluar dari dalam tubuhnya melalui luka-lukanya karena tertabrak alat transportasi darat. Begitu juga dirimu, mbak. Karena ketamakkanmu, kau bisa celaka suatu hari. Aku mohon, terimalah mas Fadhil sebagai suami dan cinta sejatimu. Jadilah mata bagi mas Fadhil agar ia bisa merasakan indahnya dunia ini. Jadilah bidadari agar mas Fadhil bisa merasakan betapa sejuk dan tentramnya surga. Dan ubahlah rasa sukamu padaku sebagai cinta dan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya."

"Aku tak bisa."

"Kenapa?"

"Rasa sukaku padamu yang sudah bersemayam di dalam jiwaku dan mengubahnya menjadi cinta, takkan bisa diubah menjadi cinta yang kau minta itu."

"Itu bisa diubah secara perlahan. Buktinya diriku. Aku bisa mengubah rasa tertarikku kepadamu hanya sebagai kakak bukan sebagai wanita yang akan menjadi pendamping hidupku."

Ayu melipat kedua tangannya di dada. Ia mendengus kesal. Fatur kemudian berjalan menjauhi Ayu.

"Apa kau sudah mempunyai wanita lain dalam hatimu sehingga kau melupakan ucapan manismu padaku?"

"Maaf, mbak. Saya mohon. Mbak jangan ganggu hidup saya lagi. Mbak itu istri mas Fadhil. Haram bagi mbak menginginkan saya 'tuk jadi suami mbak," ujar Fatur kembali ke bahasa formal.

"Alaaah. Tak usah sok sopan. Aku tahu kamu itu masih cinta 'kan sama aku?"

"Sudah saya bilang berulang kali. Saya itu menjadikan mbak kenalan saya hanya untuk menjadi istri mas Fadhil. Seperti yang mbak tahu, mas Fadhil buta karena sewaktu kecelakaan 15 tahun yang lalu hanya untuk melindungi saya dan Hasan. Ini merupakan balas budi dari saya untuk mas Fadhil."

"Tapi waktu itu kau menyatakan cinta padaku."

"Itu hanya agar mbak menerima saya."

"Oooh. Jadi semua itu bohong?"

Fatur bungkam. Ia sedikit menundukkan kepalanya.

"Kalau begitu, aku akan bersumpah! Aku akan membuat hidupmu dan keturunanmu dalam kesengsaraan yang amat luar biasa sampai rasa sakit hatiku terobati!" ujar Ayu lantang.

"Astaghfirullah. Istighfar, mbak. Istighfar."

Ayu memalingkan wajahnya. Fatur menghela napas panjang.

"Ketika sebuah api yang berkobar besar takkan mudah dipadamkan sekalipun dengan air. Ia akan berkobar dengan ganas membakar sekitarnya hingga tak ada lagi yang bisa dibakarnya. Api bisa padam dengan sendirinya hanya bila tak ada lagi yang bisa dibakar olehnya namun api amarah yang dicampur dengan rasa benci yang dalam takkan bisa dipadamkan meskipun dengan kata-kata yang lembut. Aku, sebagai adik iparmu, berdoa kepada Allah dan berharap padamu, mbak, untuk segera memadamkan api amarahmu sehingga api itu tak membakarmu suatu hari nanti."

Ayu mendengus marah dan segera meninggalkan Fatur. Fatur kemudian duduk kembali di kursi santainya lalu menopang keningnya dengan kedua tangan dan menghembuskan napas panjang.

***

Fatur masuk ke dalam kamar Fadhil. Fatur mengambil baju piyama kakaknya dan meminta para pembantu untuk keluar kamar. Fatur kemudian memasangkan baju itu ke badan Fadhil.

"Dari cara memasangnya, aku sudah bisa menebak."

Fatur tersenyum.

"Ada apa kau datang kemari adikku?"

"Apalagi kalau bukan ingin melihat wajah kakakku yang sedang bahagia ini."

Fadhil tertawa kecil.

"Fatur, aku sangat berterima kasih padamu. Kau telah membawakanku wanita terbaik yang pernah kutemui. Aku bahagia sekali." Fadhil menggenggam kedua tangan Fatur penuh kebahagiaan.

"Alhamdulillah bila mas Fadhil menerima dengan baik mbak Ayu sebagai istrimu."

Fadhil tersenyum bahagia.

"Fatur, apakah kau kini sudah punya seorang wanita yang bisa kau jadikan istrimu kelak?"

"Jangankan menjadikannya istri, mencari pun aku tak sempat, mas. Aku terlalu fokus dengan perkualiahanku."

"Kalau begitu ini sungguh kebetulan."

"Kebetulan yang bagaimana, mas?" tanya Fatur bingung.

"Aku pernah mendengar dari teman-temanku bahwa tuan Anggito mempunyai dua putri yang sangat cantik dan cerdas. Putri sulungnya sudah menikah dengan pria penerus perusahaan tambang sedangkan putri bungsunya hingga kini belum juga menikah. Aku rasa, kau dan gadis itu sangat cocok."

"Kalau pernikahan ini dikarenakan ikatan bisnis, aku rasa perusahaan olahan kayu milik tuan Anggito membawa keuntungan kecil untuk perusahaan kapal besar milik kita."

"Tapi aku ingin pernikahanmu dilandaskan oleh cinta dan kasih sayang, adikku. Pernikahan yang dilandaskan cinta dan kasih sayang akan membuat hidupmu dan keluarga kecilmu bahagia dan diberkahi kenikmatan oleh Allah SWT. Kalau dilihat, memang tak terlalu membuat perusahaan kita kaya, tapi dengan cinta dan kasih sayang, kau bisa membuat dua perusahaan ini menjadi satu kesatuan yang saling mengisi kekurangannya masing-masing."

Fatur diam, meresapi ucapan Fadhil.

"Baiklah, mas. Aku akan coba mendekati gadis itu dan membuatnya merasa nyaman denganku."

"Selain itu ada yang ingin kuberitahukan lagi.-Fadhil memegang pundak kanan Fatur dan tangan kirinya mengacungkan jari telunjuknya-Gadis itu, Amalia Sinta, mempunyai hati sekuat baja. Tak mudah untuk menerobos pertahanannya. Jadi kau harus berhati-hati dalam merebut hatinya. Karena, baja takkan bisa dipatahkan dengan sekali tebas, tapi bila kau sayat sedikit demi sedikit maka baja itu akan bisa dipatahkan," ucap Fadhil sembari memperagakan apa yang ia bicarakan.

"Aku mengerti, mas. Terima kasih atas saran dan nasehatmu. Aku sangat terbantu."

"Seorang kakak memang seharusnya memberi jalan untuk adik-adiknya agar adik-adiknya tidak tersesat." Fadhil menepuk pundak kanan Fatur

Fatur mengangguk. “Ya.”

2 comments: