Friday, October 31, 2014

BAB I - Pergi ke Ashou Sharon (Part 1)

Kira-kira beginilah penampakan SMA Ashou Sharon (sumber gambar : St John's Beaumont School, near Old Windsor)

[Bandara Asoka, kota Asoka, 08:00 a.m]
'TENG NENG NONG' bunyi bel pemberitahuan airport.

"Diberitahukan kepada semua penumpang tujuan kota Titanium diharapkan segera pergi ke pimtu 3A untuk masuk ke dalam pesawat Asoka Air. Terima kasih."


'TENG NENG NONG'


Para penumpang yang merasa terpanggil oleh pemberitahuan tadi segera pergi ke pintu 3A. Eliana pergi ke pintu 3A bersama kedua orangtuanya. Saat sudah sampai di antrian, Eliana mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian. Kedua orangtuanya mencium kedua pipi Eliana secara bergantian sambil mengucapkan doa untuk keselamatan putri mereka selama diperjalanan.

Eliana segera berjalan cepat memasuki antrian. Sesekali Eliana menoleh ke arah kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya tersenyum dan Eliana juga tersenyum.

"Mohon tiketnya," ucap pegawai pesawat.

"Ini," ucap Eliana.

"Eliana Nova. Umurmu 14 tahun. Benarkah itu?"

"Ya."

"Adek yakin?"

"Ya."

Laki-laki yang tengah mengurus tiket pesawat milik Eliana sedikit ragu. Sangat terlihat jelas di wajahnya.

"Aku tahu paman meragukan umur saya. Aku juga tahu paman akan berpikir bahwa umurku sudah 16 tahun karena postur tubuhku yang tinggi dan besar layaknya anak SMA kan?"

"Bu-bukan begitu." Laki-laki itu menarik napas sejenak. "Adek yakin bisa berpergian sendiri?”

“Ya tentu saja,” ucap Eliana sambil tersenyum.

Laki-laki itu tampak masih ragu. “Baiklah. Tapi kami akan tetap meminta para pramugari mengawasimu demi keselamatanmu.”

“Terima kasih, paman.” Eliana tersenyum lagi.

“Silahkan masuk dan nikmatilah perjalananmu adik manis.”

“Terima kasih.”

Eliana menerima penggalan tiketnya dan berjalan menysuri setiap kursi. Saat menemukan nomor kursinya, Eliana segera mempercepat langkahnya. Eliana meminta bantuan pada seseorang yang duduk di depan kursinya untuk memasukkan kopernya ke bagasi.

“Terima kasih,” ucap Eliana ramah.

“Sama-sama.”

Setelah menunggu setengah jam, akhirnya pesawat tinggal landas. Eliana memasang headsetnya untuk mengurangi bunyi desingan yang disebabkan tekanan udara bergesekan dengan tekanan badan pesawat. Eliana membunyikan musik kesukaannya dan tidur siang dengan nyenyak.
 
Lima jam telah berlalu. Kapten mengabarkan lewat alat pengeras suara yang terhubung dari ruang kokpit dengan ruang penumpang, bahwa pesawat akan lepas landas. Para pramugari-pramugara mulai bergerak membangunkan beberapa penumpang yang tertidur selama perjalanan.
The Six Symbol Novel 
 
© Eni Hariani
 
Dilarang menjiplak isi novel ini


PROLOG





==========================================================================

The Six Symbol Novel 
 
© Eni Hariani
 
Dilarang menjiplak isi novel ini

==========================================================================

Suara gemuruh langkah kaki sedang berlari terdengar sangat jelas di sebuah lorong panjang yang sebenarnya itu adalah lorong selokan bawah tanah. Seorang gadis kecil, mungkin berumur 10 tahun, tengah berlari sangat tergesa-gesa sampai ia terjatuh membuat pakaiannya basah, kotor, dan berbau tak sedap.

Gadis kecil itu bangkit dan berlari lagi lalu jatuh lagi. Napasnya tersengal-sengal. Ia kini tak punya cukup tenaga untuk bangkit berdiri.

“Main…ayo bermain….”

Gadis kecil itu tercegat kaget. Ditolehkan kepalanya ke belakang namun tak ada apapun. Ia menghembuskan napas lega. Ia lalu menghadap ke arah depan lagi dan…

“Main.”

Gadis itu berteriak sangat keras saking terkejutnya melihat boneka yang tiba-tiba ada dihadapannya sambil tersenyum manis namun bagi gadis kecil itu senyuman itu sangat menakutkan dan tanpa sadar tangan kanannya menepis boneka itu ke samping kanan dengan cukup keras. Gadis kecil itu lalu bangkit dan segera pergi lagi.
Boneka itu menolehkan kepalanya. “Ma-in?”

“Mama, Papa. Kalian di mana? Tolong Eliana. Ah!” Eliana jatuh tersungkur. Ada goresan kecil di lututnya namun ia abaikan. Eliana bangkit lagi dan berlari lagi. Lalu ia tersadar.

“Kenapa aku ada di tempat kering seperti ini? Bukankah tadi aku ada di lorong yang penuh air kotor?”

“Main. Main. Main.”

Eliana terhenyak. Ia tak mau menoleh maupun bergerak.

“Ayo main….bersamaku….”

“Kyaaa!!!”

Eliana menoleh, mencoba mencari siapa yang berteriak. Eliana melihat seorang gadis seumuran dengannya tengah dikurung di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh makhluk aneh berwarna hitam legam, bermata merah menyala, dan berekor panjang seperti ekor kucing hitam namun diujung ekornya ada api menyala-nyala.

“E..my…?”

“Tolong. Tolong aku. Keluarkan aku dari sini.”

“Emy? Ini sungguh dirimu? Aku sangat merindukanmu Emy sahabatku.”

“Tolong aku. Aku mohon.”

“Y-ya. Aku akan menolongmu. Tunggu di sini.”

Eliana berjalan cepat mencari pintu ruangan itu. Desain garis-garis pada bagian luar ruangan itu membuat Eliana kesusahan mencari pintunya.

“Tiga…dua…satu.”

“Aku menemukannya!”

Eliana segera mendorong pintu ruangan itu dengan sukacita.


‘BLAAR!!!’


Sebuah dentuman besar mengguncang bangunan tempat Eliana berada saat ini. Guncangan dari dentuman itu membuat semua yang berdiri tegak berjatuhan sedangkan radiasi dari dentuman itu membuat kaca-kaca pecah secara serentak. Eliana berdiri berlari ke arah dinding kemudian duduk meringkuk melindungi diri semampunya.

Tak lama kemudian Eliana mendengar suara riuh di sekitarnya. Eliana mengangkat kepalanya dan melihat orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Dentuman-dentuman bom menyanyi indah di malam yang penuh bintang dan bulan bulat sempurna di langit.

Eliana berjalan ke arah jendela. Ia melihat keadaan di luar jendela. Eliana tercengang.

“Ini tidak mungkin.” Eliana perlahan menjauhi jendela itu. Lalu ia melihat sesuatu bergerak sangat cepat ke arahnya.

“Oh tidak. Jangan-jangan…”

“Eliana!!” Seseorang memeluk tubuh Eliana dan menuntunnya untuk membungkukkan diri dan berlindung dibawah jendela.


‘PYRAAANG!’


Sebuah benda layaknya pesawat ufo tapi ini versi mininya menerobos kaca jendela dengan sangat keras.

Eliana membuka kedua matanya dan melihat ke arah benda di seberang kanannya. Ia yakin bahwa benda itu yang menabrak kaca jendela tadi.

“Kau baik-baik saja Eliana? Tak ada yang terluka?”

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan…kakak?” Eliana menaikkan salah satu alisnya. “Kenapa kak Erik  ada di sini?”

“Kakak baik-baik saja. Ayo kita temui mama dan papa.”


‘BLEB’


Lampu seluruh gedung itu mati. Eliana merapatkan dirinya dan mengenggam lebih erat tangan seseorang yang sangat mirip dengan sosok kakaknya.

“Tak apa. Kakak akan menjagamu.”

Sebuah lampu senter dari ponsel dinyalakan.

“Kakak rasa lampu ini cukup membantu kita menemukan mama dan papa.” Pemuda itu tersenyum meski tak terlihat karena gelap.

Eliana dan pemuda itu berjalan secara perlahan. Lampu senter digerakkan ke mana-mana untuk melihat keadaan sekitar kalau-kalau ada benda yang tiba-tiba menghalangi perjalanan mereka atau kalau-kalau ada seseorang tiba-tiba berlari ditengah gelapnya tempat ini.

Eliana dan pemuda itu sampai di sebuah kamar tidur yang cukup besar yang diterangi dengan lampu emergency. Otak Eliana mulai menyimpulkan berada di mana ia sekarang. Kamar tidur yang besar. Dua buah tempat tidur besar yang bisa dimuat dua orang satu ranjang, televisi, AC, kamar mandi yang cukup besar, wastafel, toilet jongkok, lemari berpintu empat, empat buah kursi tamu, ya kini Eliana mendapatkan jawabannya. Ia berada di sebuah penginapan dan sekarang ia sedang berada di kamar yang dikhususkan untuk menampung datu keluarga di tempat yang dama atu biasa disebut kamar family.

“Aku kembali ke kenangan ini lagi. Ini tidak benar. Tidak benar. Aku harus kembali ke dunia nyata,” gumam Eliana sambil menepuk kedua pipinya.

“Eliana,” panggil seorang wanita yang mirip dengan ibunya.

“Ya?”

“Sini. Pakai tas kecilmu. Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Ayo.”

“Hm.” Eliana menganggukan kepala.

Eliana dan lima orang yang sangat mirip dengan angota keluarganya, berlari meninggalkan gedung. Mereka hanya membawa benda yang sangat berharga dan beberapa helai pakaian dan jaket yang menempel di badan masing-masing. Mereka berlari sambil mengendap-endap agar keberadaan mereka tak diketahui.

Eliana yang sangat penasaran melihat ke sekelilingnya. Manusia berhamburan, berlari ketakutan. Makhluk hitam legam berbentuk hewan buas, bermata merah menyala dan diujung ekornya ada api yang menyala tengah berlari menangkap manusia-manusia yang berlari itu lalu memakannya atau bermain-main dulu baru memakan mereka. Eliana bergidik ngeri melihatnya.

["Aku rasa ini sudah terlalu jauh. Kita harus membangunkannya. Kita tak boleh membiarkan jiwanya terkunci di mimpi ini. Dia bisa gila nanti,"] ucap seorang gadis lewat alat radio komunikasinya yang menempel di leher.

["Baiklah. Bangunkan dia,"] respon seorang pria lewat radionya.

["Perintah dilaksanakan."]

Eliana dan orang-orang berlari menyelematkan diri. Makhluk-makhluk hitam itu bergerak mengejar mereka. Eliana hampir saja terjatuh karena ditabrak oleh seseorang tapi untunglah pemuda yang mirip dengan kakaknya segera menolongnya.

“Kau harus lebih berhati-hati, adikku.”

Eliana menganggukan kepalanya. Pemuda itu tersenyum hangat.

Seorang gadis berdiri melayang di udara. Tangan kanannya mengeluarkan sebuah pistol. Ditodongkannya tepat ke arah Eliana.

“Saatnya untuk bangun dan lupakan semuanya, Eliana.”

‘DOR!’

MAIN MENU                                                                     NEXT

Thursday, October 16, 2014

Pahlawanku yang Sebenarnya

Ehem ehem. Postingan pertama di blog baru nih. Hehehe :D
Judul: Pahlawanku yang Sebenarnya
Ditulis oleh: Eni Hariani
Dikutip dari: Chapter 1 manhua Hero(You Ling) karya Wang Yu Chen dengan beberapa perubahan :D

Perhatian!!!!
Cerita ini memiliki efek samping mata sembab dan penulis tidak akan bertanggung jawab :v . Selamat membaca :D

===Pahlawanku yang Sebenarnya===

Ayahku seorang polisi tapi dia seorang polisi yang payah. Ia bahkan tak bisa bertindak keren seperti 'Old Man'. 'Old Man' selalu berhasil mengalahkan para penjahat dan menjadi pahlawan di kotaku. Aku sangat bangga dan aku berharap 'Old Man' adalah ayahku dan aku akan sangat bangga karena itu.

Aku selalu merasakan dua tangan yang begitu hangat melindungiku. Tangan itu adalah milik ayahku. Ia selalu melindungiku dan aku berharap tangan itu adalah 'Old Man'. Suatu ketika aku tersadar. Di hari ulang tahunku yang ke -12 ayahku membawaku menonton film superhero dan juga makan malam di rumah makan bersama ibuku. Aku sangat senang sekali dan masih berharap ayahku adalah orang yang bisa kubanggakan seperti pahlawanku 'Old Man'.

Di hari itu, setelah bersenang-senang, aku, ayah, dan ibu pulang ke rumah dengan sukacita. Tiba-tiba ada seorang pencopet yang telah mencuri tas milik seorang wanita. Ayahku dengan sigapnya membekuk pencopet itu dan mengembalikan tas itu kepada sang pemilik. Aku memeluk ayahku dengan bangga dan ibuku juga sangat bangga pada ayah. Ayah bukanlah polisi yang payah. Dia berhasil membuktikan itu didepan mataku dan ia tak menggunakan senjata apapun untuk membekuk pencopet itu.

Lalu 'Old Man' pun datang. Aku sangat senang dan meriakkan namanya dengan sukacita. 'Old Man' berjalan ke arah ayahku dan ayahku berkata, "Kau tak perlu datang kemari. Kota ini sudah bisa menegakkan keadilannya sendiri."

'Old Man' melihat ke arah pencopet itu dan pencopet itu langsung ketakutan. 'Old Man' berjalan mendekati ayahku.

"Aku tidak datang untuk siapapun tapi aku datang untukmu."

'JLEB'

Sebuah belati yang sama dengan belati yang kulihat di balik ikat pinggang ayahku (dan aku bertengkar kemaren dengan ayahku karena ia tak memperbolehkanku menyentuh belati itu). Aku terkejut dan bingung sedangkan ibuku berteriak memanggil nama ayahku. 'Old Man' pun pergi. Aku masih berdiri mematung di sana. Tubuh ayahku ambruk di sampingku dan ibuku langsung menghampiri kami berdua. Aku dan ibu menangis tersedu-sedu. Ayahku lalu mengeluarkan belati itu dan memberikannya padaku.

"Ini pertama kalinya aku memberikanmu hadiah yang paling kau inginkan dan ini mungkin akan menjadi hadiah terakhirmu."

Air mataku seketika keluar dari kedua mataku membanjiri wajah mungilku.

"Jangan bersedih." Tangan kiri ayah mengusap kepalaku dan berusaha menyeka air mataku dengan jari-jari tangannya yang bergetar dan dingin. "Anakku, ingatlah pesan ayah. Pergunakan benda ini untuk keadilan. Hanya sebuah pisau dengan selubung(sarung pisau) yang bisa melakukan hal-hal untuk keadilan. Anakku, selamat ulang tahun." Ayaku menutup kedua matanya dan tersenyum agar kami tidak terlalu sesih melihat kepergiannya.
.
.
.
Kini aku tahu sekarang siapa pahlawanku yang sebenarnya. Ia telah ada dihadapanku namun aku selalu mengacuhkannya dan menatap orang lain karena ia tak seperti orang itu.

"Ayah, kau adalah pahlawanku yang sebenarnya."

The End