Thursday, October 16, 2014

Pahlawanku yang Sebenarnya

Ehem ehem. Postingan pertama di blog baru nih. Hehehe :D
Judul: Pahlawanku yang Sebenarnya
Ditulis oleh: Eni Hariani
Dikutip dari: Chapter 1 manhua Hero(You Ling) karya Wang Yu Chen dengan beberapa perubahan :D

Perhatian!!!!
Cerita ini memiliki efek samping mata sembab dan penulis tidak akan bertanggung jawab :v . Selamat membaca :D

===Pahlawanku yang Sebenarnya===

Ayahku seorang polisi tapi dia seorang polisi yang payah. Ia bahkan tak bisa bertindak keren seperti 'Old Man'. 'Old Man' selalu berhasil mengalahkan para penjahat dan menjadi pahlawan di kotaku. Aku sangat bangga dan aku berharap 'Old Man' adalah ayahku dan aku akan sangat bangga karena itu.

Aku selalu merasakan dua tangan yang begitu hangat melindungiku. Tangan itu adalah milik ayahku. Ia selalu melindungiku dan aku berharap tangan itu adalah 'Old Man'. Suatu ketika aku tersadar. Di hari ulang tahunku yang ke -12 ayahku membawaku menonton film superhero dan juga makan malam di rumah makan bersama ibuku. Aku sangat senang sekali dan masih berharap ayahku adalah orang yang bisa kubanggakan seperti pahlawanku 'Old Man'.

Di hari itu, setelah bersenang-senang, aku, ayah, dan ibu pulang ke rumah dengan sukacita. Tiba-tiba ada seorang pencopet yang telah mencuri tas milik seorang wanita. Ayahku dengan sigapnya membekuk pencopet itu dan mengembalikan tas itu kepada sang pemilik. Aku memeluk ayahku dengan bangga dan ibuku juga sangat bangga pada ayah. Ayah bukanlah polisi yang payah. Dia berhasil membuktikan itu didepan mataku dan ia tak menggunakan senjata apapun untuk membekuk pencopet itu.

Lalu 'Old Man' pun datang. Aku sangat senang dan meriakkan namanya dengan sukacita. 'Old Man' berjalan ke arah ayahku dan ayahku berkata, "Kau tak perlu datang kemari. Kota ini sudah bisa menegakkan keadilannya sendiri."

'Old Man' melihat ke arah pencopet itu dan pencopet itu langsung ketakutan. 'Old Man' berjalan mendekati ayahku.

"Aku tidak datang untuk siapapun tapi aku datang untukmu."

'JLEB'

Sebuah belati yang sama dengan belati yang kulihat di balik ikat pinggang ayahku (dan aku bertengkar kemaren dengan ayahku karena ia tak memperbolehkanku menyentuh belati itu). Aku terkejut dan bingung sedangkan ibuku berteriak memanggil nama ayahku. 'Old Man' pun pergi. Aku masih berdiri mematung di sana. Tubuh ayahku ambruk di sampingku dan ibuku langsung menghampiri kami berdua. Aku dan ibu menangis tersedu-sedu. Ayahku lalu mengeluarkan belati itu dan memberikannya padaku.

"Ini pertama kalinya aku memberikanmu hadiah yang paling kau inginkan dan ini mungkin akan menjadi hadiah terakhirmu."

Air mataku seketika keluar dari kedua mataku membanjiri wajah mungilku.

"Jangan bersedih." Tangan kiri ayah mengusap kepalaku dan berusaha menyeka air mataku dengan jari-jari tangannya yang bergetar dan dingin. "Anakku, ingatlah pesan ayah. Pergunakan benda ini untuk keadilan. Hanya sebuah pisau dengan selubung(sarung pisau) yang bisa melakukan hal-hal untuk keadilan. Anakku, selamat ulang tahun." Ayaku menutup kedua matanya dan tersenyum agar kami tidak terlalu sesih melihat kepergiannya.
.
.
.
Kini aku tahu sekarang siapa pahlawanku yang sebenarnya. Ia telah ada dihadapanku namun aku selalu mengacuhkannya dan menatap orang lain karena ia tak seperti orang itu.

"Ayah, kau adalah pahlawanku yang sebenarnya."

The End

2 comments: