![]() |
| Kira-kira beginilah penampakan SMA Ashou Sharon (sumber gambar : St John's Beaumont School, near Old Windsor) |
[Bandara Asoka, kota Asoka, 08:00 a.m]
'TENG NENG NONG' bunyi bel pemberitahuan airport.
"Diberitahukan kepada semua penumpang tujuan kota Titanium diharapkan segera pergi ke pimtu 3A untuk masuk ke dalam pesawat Asoka Air. Terima kasih."
'TENG NENG NONG'
Para penumpang yang merasa terpanggil oleh pemberitahuan tadi segera pergi ke pintu 3A. Eliana pergi ke pintu 3A bersama kedua orangtuanya. Saat sudah sampai di antrian, Eliana mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian. Kedua orangtuanya mencium kedua pipi Eliana secara bergantian sambil mengucapkan doa untuk keselamatan putri mereka selama diperjalanan.
Eliana segera berjalan cepat memasuki antrian. Sesekali Eliana menoleh ke arah kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya tersenyum dan Eliana juga tersenyum.
"Mohon tiketnya," ucap pegawai pesawat.
"Ini," ucap Eliana.
"Eliana Nova. Umurmu 14 tahun. Benarkah itu?"
"Ya."
"Adek yakin?"
"Ya."
Laki-laki yang tengah mengurus tiket pesawat milik Eliana sedikit ragu. Sangat terlihat jelas di wajahnya.
"Aku tahu paman meragukan umur saya. Aku juga tahu paman akan berpikir bahwa umurku sudah 16 tahun karena postur tubuhku yang tinggi dan besar layaknya anak SMA kan?"
"Bu-bukan begitu." Laki-laki itu menarik napas sejenak. "Adek yakin bisa berpergian sendiri?”
“Ya tentu saja,” ucap Eliana sambil tersenyum.
Laki-laki itu tampak masih ragu. “Baiklah. Tapi kami akan tetap meminta para pramugari mengawasimu demi keselamatanmu.”
“Terima kasih, paman.” Eliana tersenyum lagi.
“Silahkan masuk dan nikmatilah perjalananmu adik manis.”
“Terima kasih.”
Eliana menerima penggalan tiketnya dan berjalan menysuri setiap kursi. Saat menemukan nomor kursinya, Eliana segera mempercepat langkahnya. Eliana meminta bantuan pada seseorang yang duduk di depan kursinya untuk memasukkan kopernya ke bagasi.
“Terima kasih,” ucap Eliana ramah.
“Sama-sama.”
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya pesawat tinggal landas. Eliana memasang headsetnya untuk mengurangi bunyi desingan yang disebabkan tekanan udara bergesekan dengan tekanan badan pesawat. Eliana membunyikan musik kesukaannya dan tidur siang dengan nyenyak.
Lima jam telah
berlalu. Kapten mengabarkan lewat alat pengeras suara yang terhubung
dari ruang kokpit dengan ruang penumpang, bahwa pesawat akan lepas
landas. Para pramugari-pramugara mulai bergerak membangunkan beberapa
penumpang yang tertidur selama perjalanan.
The Six Symbol Novel
© Eni Hariani
Dilarang menjiplak isi novel ini
[Titanium City, 12.00 p.m]
“Aahhh. Akhirnya sampai juga,” kata Eliana senang sambil meluruskan tulang punggungnya.
Eliana lalu meninggalkan pesawat, makan siang sebentar di bandara, setelah itu ia menyewa taksi bandara untuk mengantarnya ke Ashou Sharon.
"Paman bisa antar saya ke SMA Ashou Sharon?" tanya Eliana pada salah seorang sopir taksi yang tengah merokok.
"Tak ada yang namanya SMA Ashou Sharon, Dek."
"Ih paman bercanda deh. Mana mungkin paman tak tahu SMA Ashou Sharon."
"Memang tak ada SMA Ashou Sharon, Dek."
"Aneh," gumam Eliana.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Eliana.
"Adek mau ke SMA Ashou Sharon?" tanya seorang sopir agak keren penampilannya.
"Ya."
"Aku tahu tempat itu."
"Benarkah?"
"Ya tentu saja."
"Paman tidak...berbohong kan...?"
"Tentu tidak."
"Aku tidak yakin," ucap Eliana memicingkan kedua matanya."
"Percaya saja. Aku ini bukan orang jahat."
"Baiklah. Tapi kalau paman berbohong, akan kulaporkan kepada pak polisi."
Pria itu mengangguk.
"Mari saya bawakan koper adek," ucapnya sambil mengambil alih koper Eliana.
Selama perjalanan Eliana melihat pemandangan kota Titanium yang sangat luar biasa indahnya. Lebih indah dari kota kelahirannya, kota Asoka. Eliana melihat pepohonan tumbuh, menghias kota Titanium dan juga gedung-gedung menjulang tinggi dengan papan iklan digital ang terpampang besar di beberapa gedung. Ada juga papan iklan digital yang dipasang di atas jalan raya, yaitu papan iklan akan keselamatan berkendara.
Eliana juga melihat busway lalu-lalang menjemput dan mengantar penumpangnya dari satu halte ke halte lainnya. Bentor, sebuah alat transportasi yang hanya muat untuk dua orang itu pun tak kalah sibuknya dengan transportasi umum lainnya seperti bus sekolah, angkot, taksi antarkota, taksi bandara, kereta ekspress dalam kota, kereta listrik antarkota dan masih banyak transportasi umum lainnya. Eliana tersenyum melihat betapa indah, ramai, sejuk, terasa asri, dan rendah polusi.
Tiba-tiba gerimis datang. Semua pejalan kaki segera berlari mencari tempat berteduh. Ada juga yang penumpang yang memasuki ke salah satu toko di pinggir jalan untuk membeli payung dan melanjutkan perjalanan mereka. Oh ya, di kota ini hampir semua toko di pinggir jalan menyediakan payung dengan harga yang sangat terjangkau, hanya 500 rupiah.
Eliana menyandarkan badannya ke kursi dan tak lama kemudian kedua matanya menutup dan dirinya segera pergi ke alam mimpi yang indah. Pak sopir tersenyum melihat penumpangnya tertidur pulas melalui cermin yang terletak di depan pak sopir.
Eliana terbangun dari tidurnya dan melihat taksi yang ditumpanginya berhenti. Dilihatnya sopir yang mengantar tak ada di dalam taksi. Eliana pun membuka kaca mobil dan melihat pak sopir sedang mengganti ban mobilnya dan cuaca sudah cerah sekarang. Daripada bengong, Eliana pun mengajak pak sopir ngobrol ngalur-ngidul.
Di tengah keasyikan mereka, datanglah beberapa orang dengan gaya punk, yang menurut Eliana itu norak banget. Noraknya itu karena tampang sama dandanan mereka itu nggak sesuai sama sekali. Bayangin aja, tampang udah pas-pasan dandanan ala punk gitu. Aneh nggak kira-kira menurut kalian? Menurut Eliana sih itu aneh banget.
Anak-anak punk itu mendekati pak sopir. Pak sopir lalu meminta Eliana untuk menutup kaca mobilnya dan diam di dalam mobil. Eliana menuruti perkataan pak sopir. Anak-anak punk yang menurut mereka keren, hebat, itu mulai memeras uang pak sopir. Pak sopir berkali-kali mengilah agar anak-anak punk itu segera pergi. Eliana muak melihat anak-anak itu sok hebat begitu. Eliana lalu keluar dari mobil dan membuat pak sopir berteriak agar Eliana kembali masuk ke dalam mobil.
“Maaf paman. Aku nggak bisa tinggal diam aja dalam mobil kayak anak yang bersembunyi di bawak ketek ibunya,” kata Eliana.
“Tapi Neng, saya nggak mau Neng dapat masalah.”
“Kayaknya anak-anak ini perlu dikasih pelajaran, paman. Toh, walaupun paman bisa membuat mereka mundur, pastinya mereka bakal datang lagi dengan pasukan yang lebih banyak dan urusannya bisa puaaannjang banget. Dan menurut aku sih, orang keren, hebat, itu nggak perlu main keroyokan. Cukup, satu lawan satu! Kalo main keroyokan, sama aja pengecut!” kata Eliana setengah mencibir anak-anak punk itu.
“Heh, mulut loe tajam juga. Tapi kira-kira tajaman pisau gue atau mulut loe?” kata seorang laki-laki dengan rambut yang dibentuk kayak sisik buah durian sambil memainkan pisau kecil di tangan kanannya.
“Hari gini? Masih berlagak preman? Hallooo? Sekarang jaman udah modern and canggih bro, otot bukanlah penentu kalau kalian adalah yang terkuat ataupun yang terhebat.”
“Arghhh. Banyak bacot loe!”
Laki-laki dengan style mohawk itu mengayunkan pisau kecilnya ke arah Eliana. Dengan sigap Eliana menghindarkan ke kiri lalu memegang tangan kanan si laki-laki sok keren itu. Eliana menggerakkan kaki kanannya untuk mengait kaki laki-laki itu hingga tersungkur.
Laki-laki itu bangkit dan menyerang Eliana lagi. Eliana menghindar ke kiri laki-laki itu dan dengan gerakan cepat Eliana sudah di belakang laki-laki itu. Eliana pun menarik ke belakang tangan laki-laki yang sedang memegang pisau tadi, kemudian Eliana memilin tangan laki-laki itu ke belakang dan lepaslah pisau tadi. Eliana mendorong laki-laki itu cukup keras ke depan hingga laki-laki itu hampir tersungkur.
“Hebat juga loe ternyata.”
Eliana mengacuhkan pujian laki-laki itu dan memungut pisau yang jatuh tadi. Eliana melipat pisau itu dan dimasukkannya ke dalam saku bajunya.
“Aku sebenarnya tak mau cari masalah. Tapi kalau kalian memang kebelet pengen bertarung, akan kulayani,” ujar Eliana dengan sikap siap, berdiri tegap dengan tangan kiri diletakkan di belakang dan tangan kanan yang ditekuk ke depan seakan memberi isyarat “ayo maju”.
Gerombolan itu terdiam sejenak, saling berpandangan dan saling memberi sinyal. Mereka pun menyerang Eliana secara barengan. Pak sopir yang sedari tadi diam di tempat mulai berdoa semoga ada yang mampu melerai perkelahian mereka.
Anak-anak punk itu melancarkan semua serangan yang mereka punya dan Eliana dengan tenang menangkis serangan itu. Pak sopir melirik sejenak ke perkelahian itu. Pak sopir tertegun. Ia merasa gerakan Eliana itu berbeda dengan gerakan seni bela diri yang ada di bumi ini.
“Apa jangan-jangan...dia mengkombinasikan semua gerakan bela diri? Ah, itu tidak mungkin. Seni bela diri tak bisa digabung-gabungkan.”
Satu per satu Eliana menjatuhkan lawannya tanpa membuat mereka terkena luka berat, hanya lebam di sekujur tubuh mereka saja.
“Aku rasa ini sudah cukup. Aku tak mau membuat kalian terluka,” ucap Eliana.
“Selain itu...aku tak mau mengundang keramaian lebih dari ini,” sambung Eliana sambil melirik sekeliling mereka yang kini penuh dengan orang-orang yang menonton pertarungan mereka.
“Sial. Kenapa jadi begini akhirnya?” kata Eliana dalam hati.
Pak sopir segera menarik lengan Eliana dan menggiringnya masuk ke dalam taksi. Pak sopir pun segera tancap gas meninggalkan tempat kejadian.
“Maaf, Neng. Saya merepotkan Neng.”
“Ah, nggak kok,” ucap Eliana sembari membenarkan ikat rambutnya.
Belum beberapa meter, taksi yang ditumpangi oleh Eliana mogok. Pak sopir segera memeriksa semua band mobil, bagian bawah mobil kalau-kalau ada yang bocor, dan tak lupa juga dia memeriksa bagian mesin.
Pak sopir kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang, setelah itu ia masuk ke dalam taksi lagi.
“Saya sudah menelpon taksi lain.”
“Memangnya kenapa saya harus ganti taksi?”
“Ada gangguan di mesinnya dan saya nggak mau Neng menunggu terlalu lama di sini.”
“Nggak apa-apa. Saya nggak terburu-buru kok.”
“Nggak Neng. Ini sudah hampir jam 1 siang, Neng. Jam segini biasanya mulai padat apalagi di jalan layang itu,” kata pak sopir sambil menunjuk jalan layang yang mungkin jaraknya sekitar 1 km dari tempat taksi tumpangan Eliana mogok.
Eliana menatap jalan layang itu dan berpikir sebentar. “Baiklah. Saya mau berganti taksi.”
Pak sopir itu tersenyum senang. “Syukurlah Neng mau mengerti. Teman saya akan segera sampai kemari.”
Dan benar! Tak lama kemudian taksi berwarna biru cerah datang menghampiri taksi yang ditumpangi Eliana. Pak sopir keluar dari taksi kemudian bersalaman dan berbincang-bincang sejenak. Pak sopir lalu meminta Eliana keluar dari taksinya dan masuk ke dalam taksi temannya. Pak sopir dan temannya bersalaman lagi dan temannya itu kemudian masuk ke dalam taksi.
“Ke Ashou Sharon ya, Dek?” kata sang sopir taksi pengganti sambil membenarkan letak kaca kecil yang menggantung di langit-langit taksi.
“Ya,” kata Eliana sambil memasang earphone-nya.
Sopir itu menyalakan mesin taksinya dan bergegas menuju tujuan Eliana, SMA Ashou Sharon. Eliana menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menikmati pemandangan indah kota Titanium dengan lantunan lagu di earphone-nya.
Setelah Eliana pergi dengan taksi baru, laki-laki yang menjadi sopir taksi Eliana yang pertama, masih berdiri disamping taksinya. Ia mengambil sebatang rokok lalu dibakarnya dan dinikmatinya sensasi nikotin dalam rokok itu. Laki-laki itu kemudian menghembuskan asap yang menandakan ia sangat menikmatinya. Laki-laki itu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan menelpon seseorang.
“Halo. Bisa bicara dengan tuan Netron?” tanya laki-laki itu sambil mengacak-acak rambut hitamnya. “Hm? Sedang rapat? Baiklah. Beritahukan, bahwa anak itu sudah ditemukan.”
Laki-laki itu memutus perbincangannya. Ponselnya kembali dimasukkannya ke dalam kantong celananya. Ia kemudian melepas kulit sintesis yang ia gunakan untuk menyamar tadi.
“Lain kali aku akan menggunakan topeng kepribadian.”
Laki-laki itu masuk mobil kemudian melempar kulit sintesis ke kursi sampingnya. Tangan kanannya menekan tombol rahasia yang disembunyikannya di balik handuk kecil dan jadilah mobil itu berubah bentuk, warna, dan plat nomornya, menjadi sebuah mobil hitam keungu-unguan dengan fitur canggih didalamnya.
“Ini lebih bagus,” puji laki-laki itu. “Saatnya kita berpesta, baby.”
“Aahhh. Akhirnya sampai juga,” kata Eliana senang sambil meluruskan tulang punggungnya.
Eliana lalu meninggalkan pesawat, makan siang sebentar di bandara, setelah itu ia menyewa taksi bandara untuk mengantarnya ke Ashou Sharon.
"Paman bisa antar saya ke SMA Ashou Sharon?" tanya Eliana pada salah seorang sopir taksi yang tengah merokok.
"Tak ada yang namanya SMA Ashou Sharon, Dek."
"Ih paman bercanda deh. Mana mungkin paman tak tahu SMA Ashou Sharon."
"Memang tak ada SMA Ashou Sharon, Dek."
"Aneh," gumam Eliana.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Eliana.
"Adek mau ke SMA Ashou Sharon?" tanya seorang sopir agak keren penampilannya.
"Ya."
"Aku tahu tempat itu."
"Benarkah?"
"Ya tentu saja."
"Paman tidak...berbohong kan...?"
"Tentu tidak."
"Aku tidak yakin," ucap Eliana memicingkan kedua matanya."
"Percaya saja. Aku ini bukan orang jahat."
"Baiklah. Tapi kalau paman berbohong, akan kulaporkan kepada pak polisi."
Pria itu mengangguk.
"Mari saya bawakan koper adek," ucapnya sambil mengambil alih koper Eliana.
***
Selama perjalanan Eliana melihat pemandangan kota Titanium yang sangat luar biasa indahnya. Lebih indah dari kota kelahirannya, kota Asoka. Eliana melihat pepohonan tumbuh, menghias kota Titanium dan juga gedung-gedung menjulang tinggi dengan papan iklan digital ang terpampang besar di beberapa gedung. Ada juga papan iklan digital yang dipasang di atas jalan raya, yaitu papan iklan akan keselamatan berkendara.
Eliana juga melihat busway lalu-lalang menjemput dan mengantar penumpangnya dari satu halte ke halte lainnya. Bentor, sebuah alat transportasi yang hanya muat untuk dua orang itu pun tak kalah sibuknya dengan transportasi umum lainnya seperti bus sekolah, angkot, taksi antarkota, taksi bandara, kereta ekspress dalam kota, kereta listrik antarkota dan masih banyak transportasi umum lainnya. Eliana tersenyum melihat betapa indah, ramai, sejuk, terasa asri, dan rendah polusi.
Tiba-tiba gerimis datang. Semua pejalan kaki segera berlari mencari tempat berteduh. Ada juga yang penumpang yang memasuki ke salah satu toko di pinggir jalan untuk membeli payung dan melanjutkan perjalanan mereka. Oh ya, di kota ini hampir semua toko di pinggir jalan menyediakan payung dengan harga yang sangat terjangkau, hanya 500 rupiah.
Eliana menyandarkan badannya ke kursi dan tak lama kemudian kedua matanya menutup dan dirinya segera pergi ke alam mimpi yang indah. Pak sopir tersenyum melihat penumpangnya tertidur pulas melalui cermin yang terletak di depan pak sopir.
Eliana terbangun dari tidurnya dan melihat taksi yang ditumpanginya berhenti. Dilihatnya sopir yang mengantar tak ada di dalam taksi. Eliana pun membuka kaca mobil dan melihat pak sopir sedang mengganti ban mobilnya dan cuaca sudah cerah sekarang. Daripada bengong, Eliana pun mengajak pak sopir ngobrol ngalur-ngidul.
Di tengah keasyikan mereka, datanglah beberapa orang dengan gaya punk, yang menurut Eliana itu norak banget. Noraknya itu karena tampang sama dandanan mereka itu nggak sesuai sama sekali. Bayangin aja, tampang udah pas-pasan dandanan ala punk gitu. Aneh nggak kira-kira menurut kalian? Menurut Eliana sih itu aneh banget.
Anak-anak punk itu mendekati pak sopir. Pak sopir lalu meminta Eliana untuk menutup kaca mobilnya dan diam di dalam mobil. Eliana menuruti perkataan pak sopir. Anak-anak punk yang menurut mereka keren, hebat, itu mulai memeras uang pak sopir. Pak sopir berkali-kali mengilah agar anak-anak punk itu segera pergi. Eliana muak melihat anak-anak itu sok hebat begitu. Eliana lalu keluar dari mobil dan membuat pak sopir berteriak agar Eliana kembali masuk ke dalam mobil.
“Maaf paman. Aku nggak bisa tinggal diam aja dalam mobil kayak anak yang bersembunyi di bawak ketek ibunya,” kata Eliana.
“Tapi Neng, saya nggak mau Neng dapat masalah.”
“Kayaknya anak-anak ini perlu dikasih pelajaran, paman. Toh, walaupun paman bisa membuat mereka mundur, pastinya mereka bakal datang lagi dengan pasukan yang lebih banyak dan urusannya bisa puaaannjang banget. Dan menurut aku sih, orang keren, hebat, itu nggak perlu main keroyokan. Cukup, satu lawan satu! Kalo main keroyokan, sama aja pengecut!” kata Eliana setengah mencibir anak-anak punk itu.
“Heh, mulut loe tajam juga. Tapi kira-kira tajaman pisau gue atau mulut loe?” kata seorang laki-laki dengan rambut yang dibentuk kayak sisik buah durian sambil memainkan pisau kecil di tangan kanannya.
“Hari gini? Masih berlagak preman? Hallooo? Sekarang jaman udah modern and canggih bro, otot bukanlah penentu kalau kalian adalah yang terkuat ataupun yang terhebat.”
“Arghhh. Banyak bacot loe!”
Laki-laki dengan style mohawk itu mengayunkan pisau kecilnya ke arah Eliana. Dengan sigap Eliana menghindarkan ke kiri lalu memegang tangan kanan si laki-laki sok keren itu. Eliana menggerakkan kaki kanannya untuk mengait kaki laki-laki itu hingga tersungkur.
Laki-laki itu bangkit dan menyerang Eliana lagi. Eliana menghindar ke kiri laki-laki itu dan dengan gerakan cepat Eliana sudah di belakang laki-laki itu. Eliana pun menarik ke belakang tangan laki-laki yang sedang memegang pisau tadi, kemudian Eliana memilin tangan laki-laki itu ke belakang dan lepaslah pisau tadi. Eliana mendorong laki-laki itu cukup keras ke depan hingga laki-laki itu hampir tersungkur.
“Hebat juga loe ternyata.”
Eliana mengacuhkan pujian laki-laki itu dan memungut pisau yang jatuh tadi. Eliana melipat pisau itu dan dimasukkannya ke dalam saku bajunya.
“Aku sebenarnya tak mau cari masalah. Tapi kalau kalian memang kebelet pengen bertarung, akan kulayani,” ujar Eliana dengan sikap siap, berdiri tegap dengan tangan kiri diletakkan di belakang dan tangan kanan yang ditekuk ke depan seakan memberi isyarat “ayo maju”.
Gerombolan itu terdiam sejenak, saling berpandangan dan saling memberi sinyal. Mereka pun menyerang Eliana secara barengan. Pak sopir yang sedari tadi diam di tempat mulai berdoa semoga ada yang mampu melerai perkelahian mereka.
Anak-anak punk itu melancarkan semua serangan yang mereka punya dan Eliana dengan tenang menangkis serangan itu. Pak sopir melirik sejenak ke perkelahian itu. Pak sopir tertegun. Ia merasa gerakan Eliana itu berbeda dengan gerakan seni bela diri yang ada di bumi ini.
“Apa jangan-jangan...dia mengkombinasikan semua gerakan bela diri? Ah, itu tidak mungkin. Seni bela diri tak bisa digabung-gabungkan.”
Satu per satu Eliana menjatuhkan lawannya tanpa membuat mereka terkena luka berat, hanya lebam di sekujur tubuh mereka saja.
“Aku rasa ini sudah cukup. Aku tak mau membuat kalian terluka,” ucap Eliana.
“Selain itu...aku tak mau mengundang keramaian lebih dari ini,” sambung Eliana sambil melirik sekeliling mereka yang kini penuh dengan orang-orang yang menonton pertarungan mereka.
“Sial. Kenapa jadi begini akhirnya?” kata Eliana dalam hati.
Pak sopir segera menarik lengan Eliana dan menggiringnya masuk ke dalam taksi. Pak sopir pun segera tancap gas meninggalkan tempat kejadian.
“Maaf, Neng. Saya merepotkan Neng.”
“Ah, nggak kok,” ucap Eliana sembari membenarkan ikat rambutnya.
Belum beberapa meter, taksi yang ditumpangi oleh Eliana mogok. Pak sopir segera memeriksa semua band mobil, bagian bawah mobil kalau-kalau ada yang bocor, dan tak lupa juga dia memeriksa bagian mesin.
Pak sopir kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang, setelah itu ia masuk ke dalam taksi lagi.
“Saya sudah menelpon taksi lain.”
“Memangnya kenapa saya harus ganti taksi?”
“Ada gangguan di mesinnya dan saya nggak mau Neng menunggu terlalu lama di sini.”
“Nggak apa-apa. Saya nggak terburu-buru kok.”
“Nggak Neng. Ini sudah hampir jam 1 siang, Neng. Jam segini biasanya mulai padat apalagi di jalan layang itu,” kata pak sopir sambil menunjuk jalan layang yang mungkin jaraknya sekitar 1 km dari tempat taksi tumpangan Eliana mogok.
Eliana menatap jalan layang itu dan berpikir sebentar. “Baiklah. Saya mau berganti taksi.”
Pak sopir itu tersenyum senang. “Syukurlah Neng mau mengerti. Teman saya akan segera sampai kemari.”
Dan benar! Tak lama kemudian taksi berwarna biru cerah datang menghampiri taksi yang ditumpangi Eliana. Pak sopir keluar dari taksi kemudian bersalaman dan berbincang-bincang sejenak. Pak sopir lalu meminta Eliana keluar dari taksinya dan masuk ke dalam taksi temannya. Pak sopir dan temannya bersalaman lagi dan temannya itu kemudian masuk ke dalam taksi.
“Ke Ashou Sharon ya, Dek?” kata sang sopir taksi pengganti sambil membenarkan letak kaca kecil yang menggantung di langit-langit taksi.
“Ya,” kata Eliana sambil memasang earphone-nya.
Sopir itu menyalakan mesin taksinya dan bergegas menuju tujuan Eliana, SMA Ashou Sharon. Eliana menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menikmati pemandangan indah kota Titanium dengan lantunan lagu di earphone-nya.
Setelah Eliana pergi dengan taksi baru, laki-laki yang menjadi sopir taksi Eliana yang pertama, masih berdiri disamping taksinya. Ia mengambil sebatang rokok lalu dibakarnya dan dinikmatinya sensasi nikotin dalam rokok itu. Laki-laki itu kemudian menghembuskan asap yang menandakan ia sangat menikmatinya. Laki-laki itu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan menelpon seseorang.
“Halo. Bisa bicara dengan tuan Netron?” tanya laki-laki itu sambil mengacak-acak rambut hitamnya. “Hm? Sedang rapat? Baiklah. Beritahukan, bahwa anak itu sudah ditemukan.”
Laki-laki itu memutus perbincangannya. Ponselnya kembali dimasukkannya ke dalam kantong celananya. Ia kemudian melepas kulit sintesis yang ia gunakan untuk menyamar tadi.
“Lain kali aku akan menggunakan topeng kepribadian.”
Laki-laki itu masuk mobil kemudian melempar kulit sintesis ke kursi sampingnya. Tangan kanannya menekan tombol rahasia yang disembunyikannya di balik handuk kecil dan jadilah mobil itu berubah bentuk, warna, dan plat nomornya, menjadi sebuah mobil hitam keungu-unguan dengan fitur canggih didalamnya.
“Ini lebih bagus,” puji laki-laki itu. “Saatnya kita berpesta, baby.”
***

No comments:
Post a Comment